Niko Rafhika Alias "Niko" Bandar Besar Sabu Lubuklinggau Dituntut Hukuman Mati

Lubuk Linggau RI News

Niko Rafhika Alias "Niko" Bandar Besar Sabu Lubuklinggau Dituntut Hukuman Mati

LUBUKLINGGAU - Pengedar sabu 13 kilogram di Lubuklinggau dituntut hukuman mati pada sidang tuntutan yang digelar di Pengadilan Negeri Lubuklinggau.

Niko Rafhika alias Niko pengedar sabu 13 kilogram tercatat warga di Jalan Depati Said RT 4, Kelurahan Linggau Ulu, Kecamatan Lubuklinggau Barat II, Sumsel menjalani sidang tuntutan di Pengadilan Negeri Lubuklinggau.

Niko pengedar sabu dituntut hukuman mati karena dinilai terbukti dan sah secara menyakinkan sebagai pemilik sabu 13 Kg dan 2.200 pil ekstasi.

Sepanjang persidangan laki-laki berusia 31 tahun itu terlihat gelisah, wajahnya pucat dan sesekali terlihat memperbaiki krah bajunya sembari sesekali berpaling dari kamera.

Kasipidum Kejari Lubuklinggau Firdaus Apandi menyampaikan terkait tuntutan hukuman mati tersebut, terdakwa jelas melanggar pasal 114 ayat 2 junto 132 ayat 1 undang-undang RI Nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika.

"Terdakwa dituntut hukuman mati, terdakwa merupakan bandar besar jaringan dari Sumatra Utara," ungkapnya pada wartawan, Kamis (28/7/2022).

Sementara JPU Kejaksaan Negeri Lubuklinggau, Akbar menyampaikan memang berdasarkan fakta persidangan terdakwa baru satu kali, namun, terdakwa pernah dihukum tahun 2012 dalam kasus narkotika.

"Dalam Lapas narkotika Muara Beliti rupanya terdakwa bertemu dengan Helmi seorang yang mengirimkan 13 Kg sabu dan 2200 butir ekstasi tersebut," ujarnya.

Terungkap dalam persidangan tugas terdakwa menyimpan narkoba itu, kemudian nantinya orang suruhan dari Helmi itu akan mengambil narkotika itu sesuai perintah.

"Dalam perkara ini terdakwa dijanjikan menerima upah 50 juta rupiah apabila barang bukti sudah diserahkan kepada orang suruhan tersebut," ungkapnya.

Dalam persidangan juga terungkap ternyata sabu itu bukan 13 Kg melainkan

ada 15 kantong sabu, namun terdakwa sudah mengirimkan dua kantong sabu tersebut kepada orang Palembang.

"Sementara sisanya 13 Kantong itu menunggu perintah selanjutnya," ujarnya.

Hal yang paling memberatkan dari terdakwa ini adalah jaringan antar provinsi dari Kota Medan, untuk diedarkan ke provinsi Sumatera Selatan khususnya ke Lubuklinggau dan Palembang.

"Hal lainnya terdakwa ini pernah dipidana tahun 2012 artinya sudah secara sah dan sadar mengetahui bahwa narkotika itu dilarang oleh pemerintah," ungkapnya.(sumber tribun) 

Jurnalis

Diko (010)